Menulis sebuah cerita fiksi
ternyata tidak semengerikan yang saya bayangkan. Baru-baru ini saya tengah
belajar bagaimana menguntai kata demi kata yang –bukan lagi berita atau esai,
yang lebih sering saya tulis –membentuk sebuah cerita imajinatif, fiksi.
Menurut saya dasar dari membuat sebuah cerita fiksi adalah: daya imajinatif.
Menulis cerita fiksi adalah seperti kita berbohong. Berbohong untuk
menghasilkan sebuah dongeng yang mempu menumbuhkan rasa senang, bahagia, sedih,
iba, memiliki harapan, dan berbagai rasa yang disajikan penulis yang mempu
menggeret pembaca ke sebuah dunia dimana logika bukan lagi menjadi tolok ukur
mutlak.
Cerita fiksi dapat datang dari
berbagai hal yang ada di sekitar kita –saya juga baru tahu akan hal ini. Ada
banyak sekali penulis cerita fiksi yang menemukan ide ceritanya dari melihat
kejadian-kejadian kecil dalam keseharian. Bahkan ada juga seorang wanita
berdarah Inggris yang dapat menulis sebuah novel fiksi tentang orang Prancis
penganut Protestan, hanya dengan melihat sepintas sebuah kejadian.
Ketika ia menaiki sebuah tangga, melalui pintu pintu rumah seorang pastur yang
terbuka, tampak olehnya beberapa pemuda Protestan sedang berkumpul mengelilingi
meja setelah makan. Hanya sepintas itulah yang dapat membangkitkan daya
imajinasinya untuk menulis sebuah cerita fiksi.
Saya mencoba mempraktikkan
metode melihat sepintas ini untuk langkah pertama saya belajar menulis
cerita fiksi. Inilah hasilnya:
Aku sedang membaca “Tunnels”-nya Roderick Gordon dan Brian
Williams. Membaca novel fiksi, apalagi tentang petualangan, sangatlah seru.
Seolah mengalami sendiri kejadian-kejadian menegangkan di dalam terowongan
seperti labirin misterius yang tak ada ujungnya. Sebuah cerita epik
dengan bahasa yang sederhana; mudah dipahami. Yah, meskipun terjemahan, buku
ini tetap membuatku bergairah. Terutama di pagi ini. Pagi yang hangat. Matahari
masih bergelayut di 15 derajat ufuk timur. Semuanya seperti biasanya, aku dan
teman-temanku sedang manunggu bel masuk sekolah, kecuali satu. Latihan
kakak-kakak tingkatku baris-berbaris.
Tak begitu menarik bagiku. Itu hanya gerakan-gerakan dasar
berjalan yang dilakukan serentak, berbelok, berbalik, dan sebagainya. Tak ada
yang sulit. Semuanya biasa saja, mengapa juga harus bekerja keras latihan. “Apa
asiknya seperti itu?! Membosankan.” Ujarku dalam hati. Aku kembali tenggelam
dengan petualangan Will Burrow menelusuri lorong-lorong misterius untuk
menemukan Dr. Burrow –ayahnya –dan menghentikan usaha invasi koloni bawah tanah
yang dipimpin oleh Styx.
“Hei, lagi baca apa? Boleh duduk di sini?” ucap suara dari
sebelahku. Aku tidak langsung mnjawab pertanyaannya. Aku melihat sepatu kainnya
yang lusuh, dengan kaos kaki hitam kusam –meski hitam sudah terlihat gelap,
menurutku, tapi kaos kaki itu benar-banar kusam, tak terawat. Aku mendongakan
kepala demi melihat wajah gadis yang menghampiriku. Usianya sekitar sepantaran
dengaku. Tubuhnya pendek, lebih pendek dariku. Matanya bulat-kecil seperti obat
sakit kepala yang banyak di jual di warung-warung. Dengan bentuk wajah lonjong
dan alis tipis bertengger di atas matanya, ia terlihat lucu. Mengingatkanku
pada wajah Selvi, adik sepupuku yang masih berumur empat tahun.
“Lagi baca novel. Oh, ya. Duduk aja nggak papa kok.”
Balasku akhirnya. Ia tidak banyak bicara waktu itu. Aku juga sudah tenggelam
lagi dalam dunia fantasiku sendiri bersama novel di tanganku. Ada sekitar dua
puluh anak bergerombol di sekelilingku –sama sepertiku, menunggu bel masuk
sekolah. Bercanda, mengobrol, lebih banyak yang memerhatikan latihan
baris-berbaris kakak-kakak kelasku di lapangan basket. Lapangan basket sekolah
kami memang bersebelahan dengan taman –entahlah, apa itu bisa disebut taman
atau tidak. Karena yang ada di sana hanya sebuah pohon beringin setinggi enam
meter. Ada empat buah tempat duduk melingkar, mengitari pohon ini. Terasa teduh
ketika duduk di sana.
Dua menit, empat menit, enam menit, sepuluh menit. Waktu
terasa merayap lambat sekali saat ini. Gadis yang duduk di sebelahku sepertinya
ikut menonton latihan baris-berbaris itu. Sama sekali bergeming –atau
jangan-jangan ia tidak berkedip sama sekali, mungkin. Karena saat aku
mengangkat kepala, memastikan ia masih berada di sampingku, aku melihat ia
terpana. Bibirnya menyunggingkan senyum. Meski tipis, aku tahu itu adalah
senyum kesemangatan, ketertarikan, dan kegairahan akan sesuatu. Aku pun pernah
merasakannya ketika aku pertama kali diajak Ayla pergi ke toko buku.
“Kamu suka baris-berbaris?” tanyaku padanya. Aku meletakkan
“Tunnels”-ku di atas pangkuanku. Dia masih melihat ke depan. Tidak merespon
pertanyaanku. “Hei, apa kamu suka baris-berbaris?” Tanyaku sekali lagi sambil
menyenggol bahunya. Ia tampak kebinggungan dan gugup menanggapiku. “Maaf, apa
yang kamu katakan tadi?” Ia menanggapi pertanyaanku dengan pertanyaan lagi.
“Hufffttt ….” Aku mendengus, mengalihkan pandangan ke arah lapangan. Tapi
sekali lagi aku mengulangi pertanyaan bodohku berusan. “Apakah kamu suka baris
berbaris, ehh?” Aku mengucapkannya sambil kesal, jengkel, dan kemudian
bingung mau memanggilnya siapa –memang aku belum tahu namanya sih. Aduh aku
jadi malu sendiri. “Rara.” Dia menanggapi. “Namaku Rara. Tiara Kusuma. Kamu
bisa memanggilku Rara.” Lanjutnya.
Aku merasakan pipiku memerah. Segera aku memalingkan wajah
lagi ke lapangan basket. “Iya. Aku suka sekali baris berbaris. Sejak aku masih
di SD dulu, aku selalu ingin ikut lomba baris berbaris bersama teman-temanku.
Mewakili sekolah di tingkat kecamatan atau kabupaten, membawa tropi kemenangan
ketika pulang. Hanya memikirkannya saja sudah membuatku merasa sangat
bersemangat. Ingin sekali aku seperti mereka. Yah, aku kan hanya gadis kecil.
Tinggiku saja masih 110 cm, padahal sudah masuk SMP. Eh, maaf. Aku ngomong
terlalu banyak ya?”
Ia tampak kikuk dan serba salah. Aku juga memandanginya
sambil ternganga mendengar ceritanya. Bukan karena isi ceritanya, tapi lebih
kerena ternyata gadis yang kecil dengan mata bulat yang juga kecil ini, kukira
adalah anak yang pendiam, tidak banyak omong seperti kelihatannya.
Begitulah hasilnya. Saya
memang mencoba menulis hanya satu lembar cerita saja. Sebagai orang yang
pertama kali menulis cerita fiksi itu cukup sulit, tapi jujur, itu juga
meupakan sesuatu yang menyenangkan dan menggairahkan. Cerita itu saya
buat begitu saja ketika saya melihat sekelompok anak-anak SMP sedang menunggu
bel masuk sekolah. Waktu itu saya sedang latihan baris-berbaris. Saya hanya
melihatnya sekilas –tidak benar-benar sepintas, sih. Tapi saya mencoba melihat,
merasakan, dan menerka apa yang terjadi dan apa yang mereka katakan dalam kerumunan
itu. Mencoba mengembangkan sesuatu dari sekelumit data dan menceritakannya.
Hanya itu.
Gambar oleh : pixabay

0 komentar:
Posting Komentar