Apa yang kamu
lakukan–bayangkan kamu adalah seorang siswa–jika ada seorang guru yang
meneriakimu untuk mengisi bangku kosong di depan? Berkoar-koar tentang
“berlomba-lombalah dalam kebaikan!” atau tentang “posisi menentukan prestasi”
atau semua kalimat-kalimat yang membujuk kamu untuk memenuhi perintahnya, duduk
di bangku bagian depan. Dan semasa aku masih SMA, aku memiliki guru yang
seperti itu. Tegas, cerdas, tanpa kompromi, namun jenaka dan selalu
menyemangati muridnya untuk selalu “berlomba dalam hal kebaikan” dan selalu
berceletuk dan mengingatkan kami tentang “posisi duduk di bangku bagian
depan.”
Saat itu aku biasa-biasa saja
menanggapi hal itu. “Ah, paling cuma biar temen-temen nggak main sendiri di
pojokan atau belakang kelas. Apanya yang ‘menentukan prestasi?’” Sanggahku
dalam hati ketika itu. Cuek dengan apa yang ia perintahkan. Hanya memandang
teman-temanku yang tapak beberapa diantara mereka yang bersungut-sungaut
melangkah menuju bangku depan sambil menenteng tasnya. Sambil lalu aku sama
sekali tak mencermati apa maksud dari guruku yang satu itu.
Dan sekarang, setelah lebih
dari dua tahun aku lulus dari SMA, baru aku menyadari apa yang beliau
maksud–tentang kalimat “posisi yang menentukan prestasi”. Sungguh gemblungnya
diriku.
Ternyata–bukan hanya di dalam
kelas–kalimat itu diaplikasikan. Di manapun, kapanpun, dan sebagai apapun,
kalimat itu digunakan. Dalam strategi berperang dari jaman dulu hingga
sekarang, “posisi” memiliki dampak yang tidak main-main. Sangat vital.
Benar-benar menjadi salah satu kunci mentukan “kemenangan”. Menentukan
“keberhasilan”. Menentukan “prestasi”. Seorang pembunuh yang profesional akan
mempelajari dengan teliti tentang target dan mencari posisi yang paling efektif
untuk melaksanakan tugasnya. Posisi menentukan strategi, posisi menentukan
senjata, dan tentunya–seperti yang aku bilang–posisi menentukan prestasi. Dalam
permainan pun sama. Catur misalnya. Pada sepuluh langkah pertama dapat
menentukan apakah posisi seorang pemain catur berada di atas angin, seimbang,
atau mungkin kalah posisi.
Kualitas kerja sama antar
pemain dalam sebuah tim pun sangat dipengaruhi oleh kesadaran tiap anggota
tentang posisinya. Akan ada miss comunication antar anggota tim jika
sama sekali tidak mengetahui posisinya, tugasnya, fungsinya. Hal ini sangat
fatal bagi tim
Jika seseorang telah
mengetahui posisinya–sebagai murid, sebagai manusia, sebagai mahasiswa, sebagai
guru, sebagai petani, sebagai penulis, sebagai apapun–tingkat keberhasilan yang
dimilikinya akan meningkat. Otomatis.
Sikap-sikap yang dimiliki oleh
orang yang sadar akan posisinya akan selalu mengerucut untuk mencapai keberhasilan
si posisi yang didudukinya. Tahu diri, selalu memberdayakan potensi diri, tahu
cara bersikap, semakin cerdik dalam perencanaan, tahu akan batasan-batasan yang
tidak boleh ia lewati, kerja sama antar anggota tim akan meningkat karena ia
pasti akan menyadari dan mengetahui fungsi. Bukan hanya berhenti pada perintah.
Jika tanpa perintah tak akan bergerak. Seperti robot yang menunggu untuk
diberi perintah.
Gambar oleh : pixabay
Gambar oleh : pixabay

0 komentar:
Posting Komentar