John Smith

I am a Writer

John Doe

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit .
Erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper.

  • 3066 Stone Lane, Wayne, Pennsylvania.
  • +610-401-6021, +610-401-6022
  • admin@mydomain.com
  • www.yourdomain.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Posisi Menentukan Prestasi (?)



    Apa yang kamu lakukan–bayangkan kamu adalah seorang siswa–jika ada seorang guru yang meneriakimu untuk mengisi bangku kosong di depan? Berkoar-koar tentang “berlomba-lombalah dalam kebaikan!” atau tentang “posisi menentukan prestasi” atau semua kalimat-kalimat yang membujuk kamu untuk memenuhi perintahnya, duduk di bangku bagian depan. Dan semasa aku masih SMA, aku memiliki guru yang seperti itu. Tegas, cerdas, tanpa kompromi, namun jenaka dan selalu menyemangati muridnya untuk selalu “berlomba dalam hal kebaikan” dan selalu berceletuk dan mengingatkan kami tentang “posisi duduk di bangku bagian depan.”

    Saat itu aku biasa-biasa saja menanggapi hal itu. “Ah, paling cuma biar temen-temen nggak main sendiri di pojokan atau belakang kelas. Apanya yang ‘menentukan prestasi?’” Sanggahku dalam hati ketika itu. Cuek dengan apa yang ia perintahkan. Hanya memandang teman-temanku yang tapak beberapa diantara mereka yang bersungut-sungaut melangkah menuju bangku depan sambil menenteng tasnya. Sambil lalu aku sama sekali tak mencermati apa maksud dari guruku yang satu itu.

    Dan sekarang, setelah lebih dari dua tahun aku lulus dari SMA, baru aku menyadari apa yang beliau maksud–tentang kalimat “posisi yang menentukan prestasi”. Sungguh gemblungnya diriku.

    Ternyata–bukan hanya di dalam kelas–kalimat itu diaplikasikan. Di manapun, kapanpun, dan sebagai apapun, kalimat itu digunakan. Dalam strategi berperang dari jaman dulu hingga sekarang, “posisi” memiliki dampak yang tidak main-main. Sangat vital. Benar-benar menjadi salah satu kunci mentukan “kemenangan”. Menentukan “keberhasilan”. Menentukan “prestasi”. Seorang pembunuh yang profesional akan mempelajari dengan teliti tentang target dan mencari posisi yang paling efektif untuk melaksanakan tugasnya. Posisi menentukan strategi, posisi menentukan senjata, dan tentunya–seperti yang aku bilang–posisi menentukan prestasi. Dalam permainan pun sama. Catur misalnya. Pada sepuluh langkah pertama dapat menentukan apakah posisi seorang pemain catur berada di atas angin, seimbang, atau mungkin kalah posisi.

    Kualitas kerja sama antar pemain dalam sebuah tim pun sangat dipengaruhi oleh kesadaran tiap anggota tentang posisinya. Akan ada miss comunication antar anggota tim jika sama sekali tidak mengetahui posisinya, tugasnya, fungsinya. Hal ini sangat fatal bagi tim

    Jika seseorang telah mengetahui posisinya–sebagai murid, sebagai manusia, sebagai mahasiswa, sebagai guru, sebagai petani, sebagai penulis, sebagai apapun–tingkat keberhasilan yang dimilikinya akan meningkat. Otomatis.

    Sikap-sikap yang dimiliki oleh orang yang sadar akan posisinya akan selalu mengerucut untuk mencapai keberhasilan si posisi yang didudukinya. Tahu diri, selalu memberdayakan potensi diri, tahu cara bersikap, semakin cerdik dalam perencanaan, tahu akan batasan-batasan yang tidak boleh ia lewati, kerja sama antar anggota tim akan meningkat karena ia pasti akan menyadari dan mengetahui fungsi. Bukan hanya berhenti pada perintah. Jika tanpa perintah tak akan bergerak. Seperti robot yang menunggu untuk diberi perintah.

    Gambar oleh : pixabay
  • Bergumul dengan Kebingungan





    Kebingungan merupakan wujud dari proses menuju kedewasaan. Jika anda belum pernah mengalamai proses ini, perlulah ditanyakan sejauh mana anda mengenal diri anda.

    Semasa remaja menjelang dewasa –sekitar umur 18 hingga 23 tahun –seorang manusia pasti melalui proses transisi yang bernama “kebingungan” (mayoritas). Banyak sebabnya. Kekagetan mengenai kenyataan hidup, masalah masa depan, tentang kebenaran jati diri, dilema percintaan, permasalahan mental-tempe menghadapi situasi lingkungan di sekitar, bahkan hingga masalah-masalah sepele dalam kehidupan sehari-hari : malu, tidak tahu apapun, pikiran buntu, tak ada ide, kurang informasi, dan masih segudang lagi sebab-sebab lain.

    Ini semua perkara –kebingungan –yang sudah out of date, tapi masih tetap menjadi misteri yang terus aktual dan dinamis. Alih-alih bagi para remaja 18–23 tahunan, anak-anak dan orang dewasa pun tak jarang yang mengalaminya.

    Sebuah kebingungan dalam diri adalah hal yang lumrah. Kata beberapa teman saya, “bingung itu tandanya mikir, otaknya kerja. Kalau nggak bingung, berarti gak mikir –malah ada yang bilang gak pernah mikir.” Ini sebenarnya sindiran sederhana untuk teman-teman saya yang mudah menggampangkan sesuatu (termasuk saya), suka nggak nyambung jika diajak ngobrol (biasanya saya juga), dan atau teman-teman yang apatis –sama sekali tak acuh dan tak ambil pusing dengan lingkungan sekitarnya (kalau ini saya juga sering).

    Terlepas dari apa kata teman-teman saya, bagi saya kebingungan itu tidak lain hanyalah ketakutan fatamorgana akan sesuatu yang samar samar di hadapan kita. Tidak lebih dari itu. Terdengar sok puitis dan intelek memang, tapi memang itu yang berada dalam benak saya. “Sesuatu yang samar” itu secara lembut, diam-diam, dan tanpa kita menyadarinya menginvasi pikiran kita hingga memercik konflik. Seperti virus, yang secara perlahan menggerogoti inangnya. Timbul konflik internal batin, konflik pikiran, atau entah seperti apapun anda menyebutnya.

    Saya menuebutnya ketakutan karena menurut saya efek dari konflik yang disebut “kebingungan” ini seringkali manifestasi dari rasa takut. Takut untuk melakukan sesuatu : ingah-ingih, melamun, dan minder. Beberapa contoh dari macam-macam wujud takut dalam diri seseorang. Saya tidak terlalu paham, saya bukan psikolog yang dapat menjelaskannya secara teoritis. Ini hanya pengamatan lingkungan sekitas saya atau setidaknya kejadian yang pernah saya temui atau yang saya baca dari buku.

    Memiliki kebingungan bukanlah semata-mata terkesan negatif. Seseorang yang telah melewati badai kebingungan terkadang dapat menumbuhkan benih kesadaran. Kesadaran yang akan berbuah mental tangguh pada orang tersebut.

    Lantas, bagaimana menghadapi kebingungan dan menumbuhkan kesadaran itu? Entahlah, saya juga tidak tahu pasti. Tapi secara logika, jika kebingungan kita definisikan sebagai “ketakutan terhadap sesuatu yang samar”, ya ... jawabannya cukup mudah. Cari kejelasan, agar sesuatu yang samar itu menjadi gamblang. Benar tidak?

    Rumus sederhana “mencari kejelasan” memang mudah dituliskan apalagi diucapkan. Dalam realisasinya, rumus ini sulit di-aksi-kan. Lebih-lebih bagi mereka yang bergelut dengan kebingungan mencari kebenaran dan keberadaan Tuhan, mencari jati diri kemanusiaannya, dan mencari tujuan serta makna hidup dan kehidupan. Perkara ini amat tidak mudah dilakukan tanpa keteguhan hati yang kuat, mental baja, ketekunan yang luar biasa, juga rahmat Tuhan sendiri.

    Saya punya rahasia kecil untuk anda yang tengah “kebingungan” dengan hal itu. Ternyata, ada yang bisa menjawab dengan jelas dan gamblang pertanyaan-pertanyaan ihwal tersebut. Bapak Kiai Tanjung. Begitulah gelar beliau. Silahkan bertanya sendiri secara langsung kepada beliau. Beliau akan selalu terbuka menerima anda. Alamatnya? Di desa kecil di kabupaten Nganjuk bernama Tanjunganom.

    Baiklah, sudah cukup kita berbingung-bingung dengan “kebingungan” ini. Saatnya mencari kejelasan dan kebenaran yang sejelas-jelasnya.

    Gambar oleh : pixabay
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Cari Blog Ini

    Diberdayakan oleh Blogger.

    Arsip Blog

    Mengenai Saya

    hanya salah satu manusia yang ingin 'pulang'

    Posisi Menentukan Prestasi (?)

    Apa yang kamu lakukan–bayangkan kamu adalah seorang siswa–jika ada seorang guru yang meneriakimu untuk mengisi bangku kosong di depan?...

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13