Gambar oleh : pixabay
Apa yang kamu
lakukan–bayangkan kamu adalah seorang siswa–jika ada seorang guru yang
meneriakimu untuk mengisi bangku kosong di depan? Berkoar-koar tentang
“berlomba-lombalah dalam kebaikan!” atau tentang “posisi menentukan prestasi”
atau semua kalimat-kalimat yang membujuk kamu untuk memenuhi perintahnya, duduk
di bangku bagian depan. Dan semasa aku masih SMA, aku memiliki guru yang
seperti itu. Tegas, cerdas, tanpa kompromi, namun jenaka dan selalu
menyemangati muridnya untuk selalu “berlomba dalam hal kebaikan” dan selalu
berceletuk dan mengingatkan kami tentang “posisi duduk di bangku bagian
depan.”
Saat itu aku biasa-biasa saja
menanggapi hal itu. “Ah, paling cuma biar temen-temen nggak main sendiri di
pojokan atau belakang kelas. Apanya yang ‘menentukan prestasi?’” Sanggahku
dalam hati ketika itu. Cuek dengan apa yang ia perintahkan. Hanya memandang
teman-temanku yang tapak beberapa diantara mereka yang bersungut-sungaut
melangkah menuju bangku depan sambil menenteng tasnya. Sambil lalu aku sama
sekali tak mencermati apa maksud dari guruku yang satu itu.
Dan sekarang, setelah lebih
dari dua tahun aku lulus dari SMA, baru aku menyadari apa yang beliau
maksud–tentang kalimat “posisi yang menentukan prestasi”. Sungguh gemblungnya
diriku.
Ternyata–bukan hanya di dalam
kelas–kalimat itu diaplikasikan. Di manapun, kapanpun, dan sebagai apapun,
kalimat itu digunakan. Dalam strategi berperang dari jaman dulu hingga
sekarang, “posisi” memiliki dampak yang tidak main-main. Sangat vital.
Benar-benar menjadi salah satu kunci mentukan “kemenangan”. Menentukan
“keberhasilan”. Menentukan “prestasi”. Seorang pembunuh yang profesional akan
mempelajari dengan teliti tentang target dan mencari posisi yang paling efektif
untuk melaksanakan tugasnya. Posisi menentukan strategi, posisi menentukan
senjata, dan tentunya–seperti yang aku bilang–posisi menentukan prestasi. Dalam
permainan pun sama. Catur misalnya. Pada sepuluh langkah pertama dapat
menentukan apakah posisi seorang pemain catur berada di atas angin, seimbang,
atau mungkin kalah posisi.
Kualitas kerja sama antar
pemain dalam sebuah tim pun sangat dipengaruhi oleh kesadaran tiap anggota
tentang posisinya. Akan ada miss comunication antar anggota tim jika
sama sekali tidak mengetahui posisinya, tugasnya, fungsinya. Hal ini sangat
fatal bagi tim
Jika seseorang telah
mengetahui posisinya–sebagai murid, sebagai manusia, sebagai mahasiswa, sebagai
guru, sebagai petani, sebagai penulis, sebagai apapun–tingkat keberhasilan yang
dimilikinya akan meningkat. Otomatis.
Sikap-sikap yang dimiliki oleh
orang yang sadar akan posisinya akan selalu mengerucut untuk mencapai keberhasilan
si posisi yang didudukinya. Tahu diri, selalu memberdayakan potensi diri, tahu
cara bersikap, semakin cerdik dalam perencanaan, tahu akan batasan-batasan yang
tidak boleh ia lewati, kerja sama antar anggota tim akan meningkat karena ia
pasti akan menyadari dan mengetahui fungsi. Bukan hanya berhenti pada perintah.
Jika tanpa perintah tak akan bergerak. Seperti robot yang menunggu untuk
diberi perintah.
Gambar oleh : pixabay
Gambar oleh : pixabay
Kebingungan merupakan wujud
dari proses menuju kedewasaan. Jika anda belum pernah mengalamai proses ini,
perlulah ditanyakan sejauh mana anda mengenal diri anda.
Semasa remaja menjelang dewasa
–sekitar umur 18 hingga 23 tahun –seorang manusia pasti melalui proses transisi
yang bernama “kebingungan” (mayoritas). Banyak sebabnya. Kekagetan mengenai
kenyataan hidup, masalah masa depan, tentang kebenaran jati diri, dilema
percintaan, permasalahan mental-tempe menghadapi situasi lingkungan di sekitar,
bahkan hingga masalah-masalah sepele dalam kehidupan sehari-hari : malu, tidak
tahu apapun, pikiran buntu, tak ada ide, kurang informasi, dan masih segudang
lagi sebab-sebab lain.
Ini semua perkara –kebingungan
–yang sudah out of date, tapi masih tetap menjadi misteri yang terus aktual
dan dinamis. Alih-alih bagi para remaja 18–23 tahunan, anak-anak dan orang
dewasa pun tak jarang yang mengalaminya.
Sebuah kebingungan dalam diri
adalah hal yang lumrah. Kata beberapa teman saya, “bingung itu tandanya mikir,
otaknya kerja. Kalau nggak bingung, berarti gak mikir –malah ada yang
bilang gak pernah mikir.” Ini sebenarnya sindiran sederhana untuk teman-teman
saya yang mudah menggampangkan sesuatu (termasuk saya), suka nggak nyambung
jika diajak ngobrol (biasanya saya juga), dan atau teman-teman yang apatis
–sama sekali tak acuh dan tak ambil pusing dengan lingkungan sekitarnya (kalau
ini saya juga sering).
Terlepas dari apa kata
teman-teman saya, bagi saya kebingungan itu tidak lain hanyalah ketakutan fatamorgana
akan sesuatu yang samar samar di hadapan kita. Tidak lebih dari itu. Terdengar
sok puitis dan intelek memang, tapi memang itu yang berada dalam benak saya.
“Sesuatu yang samar” itu secara lembut, diam-diam, dan tanpa kita menyadarinya
menginvasi pikiran kita hingga memercik konflik. Seperti virus, yang secara
perlahan menggerogoti inangnya. Timbul konflik internal batin, konflik pikiran,
atau entah seperti apapun anda menyebutnya.
Saya menuebutnya ketakutan
karena menurut saya efek dari konflik yang disebut “kebingungan” ini seringkali
manifestasi dari rasa takut. Takut untuk melakukan sesuatu : ingah-ingih, melamun,
dan minder. Beberapa contoh dari macam-macam wujud takut dalam diri seseorang.
Saya tidak terlalu paham, saya bukan psikolog yang dapat menjelaskannya secara
teoritis. Ini hanya pengamatan lingkungan sekitas saya atau setidaknya kejadian
yang pernah saya temui atau yang saya baca dari buku.
Memiliki kebingungan bukanlah
semata-mata terkesan negatif. Seseorang yang telah melewati badai kebingungan
terkadang dapat menumbuhkan benih kesadaran. Kesadaran yang akan berbuah mental
tangguh pada orang tersebut.
Lantas, bagaimana menghadapi
kebingungan dan menumbuhkan kesadaran itu? Entahlah, saya juga tidak tahu
pasti. Tapi secara logika, jika kebingungan kita definisikan sebagai “ketakutan
terhadap sesuatu yang samar”, ya ... jawabannya cukup mudah. Cari kejelasan,
agar sesuatu yang samar itu menjadi gamblang. Benar tidak?
Rumus sederhana “mencari
kejelasan” memang mudah dituliskan apalagi diucapkan. Dalam realisasinya, rumus
ini sulit di-aksi-kan. Lebih-lebih bagi mereka yang bergelut dengan kebingungan
mencari kebenaran dan keberadaan Tuhan, mencari jati diri kemanusiaannya, dan
mencari tujuan serta makna hidup dan kehidupan. Perkara ini amat tidak mudah
dilakukan tanpa keteguhan hati yang kuat, mental baja, ketekunan yang luar
biasa, juga rahmat Tuhan sendiri.
Saya punya rahasia kecil untuk
anda yang tengah “kebingungan” dengan hal itu. Ternyata, ada yang bisa menjawab
dengan jelas dan gamblang pertanyaan-pertanyaan ihwal tersebut. Bapak Kiai
Tanjung. Begitulah gelar beliau. Silahkan bertanya sendiri secara langsung
kepada beliau. Beliau akan selalu terbuka menerima anda. Alamatnya? Di desa
kecil di kabupaten Nganjuk bernama Tanjunganom.
Baiklah, sudah cukup kita
berbingung-bingung dengan “kebingungan” ini. Saatnya mencari kejelasan dan
kebenaran yang sejelas-jelasnya.
Gambar oleh : pixabay
Gambar oleh : pixabay

