Bergumul dengan Kebingungan
Kebingungan merupakan wujud
dari proses menuju kedewasaan. Jika anda belum pernah mengalamai proses ini,
perlulah ditanyakan sejauh mana anda mengenal diri anda.
Semasa remaja menjelang dewasa
–sekitar umur 18 hingga 23 tahun –seorang manusia pasti melalui proses transisi
yang bernama “kebingungan” (mayoritas). Banyak sebabnya. Kekagetan mengenai
kenyataan hidup, masalah masa depan, tentang kebenaran jati diri, dilema
percintaan, permasalahan mental-tempe menghadapi situasi lingkungan di sekitar,
bahkan hingga masalah-masalah sepele dalam kehidupan sehari-hari : malu, tidak
tahu apapun, pikiran buntu, tak ada ide, kurang informasi, dan masih segudang
lagi sebab-sebab lain.
Ini semua perkara –kebingungan
–yang sudah out of date, tapi masih tetap menjadi misteri yang terus aktual
dan dinamis. Alih-alih bagi para remaja 18–23 tahunan, anak-anak dan orang
dewasa pun tak jarang yang mengalaminya.
Sebuah kebingungan dalam diri
adalah hal yang lumrah. Kata beberapa teman saya, “bingung itu tandanya mikir,
otaknya kerja. Kalau nggak bingung, berarti gak mikir –malah ada yang
bilang gak pernah mikir.” Ini sebenarnya sindiran sederhana untuk teman-teman
saya yang mudah menggampangkan sesuatu (termasuk saya), suka nggak nyambung
jika diajak ngobrol (biasanya saya juga), dan atau teman-teman yang apatis
–sama sekali tak acuh dan tak ambil pusing dengan lingkungan sekitarnya (kalau
ini saya juga sering).
Terlepas dari apa kata
teman-teman saya, bagi saya kebingungan itu tidak lain hanyalah ketakutan fatamorgana
akan sesuatu yang samar samar di hadapan kita. Tidak lebih dari itu. Terdengar
sok puitis dan intelek memang, tapi memang itu yang berada dalam benak saya.
“Sesuatu yang samar” itu secara lembut, diam-diam, dan tanpa kita menyadarinya
menginvasi pikiran kita hingga memercik konflik. Seperti virus, yang secara
perlahan menggerogoti inangnya. Timbul konflik internal batin, konflik pikiran,
atau entah seperti apapun anda menyebutnya.
Saya menuebutnya ketakutan
karena menurut saya efek dari konflik yang disebut “kebingungan” ini seringkali
manifestasi dari rasa takut. Takut untuk melakukan sesuatu : ingah-ingih, melamun,
dan minder. Beberapa contoh dari macam-macam wujud takut dalam diri seseorang.
Saya tidak terlalu paham, saya bukan psikolog yang dapat menjelaskannya secara
teoritis. Ini hanya pengamatan lingkungan sekitas saya atau setidaknya kejadian
yang pernah saya temui atau yang saya baca dari buku.
Memiliki kebingungan bukanlah
semata-mata terkesan negatif. Seseorang yang telah melewati badai kebingungan
terkadang dapat menumbuhkan benih kesadaran. Kesadaran yang akan berbuah mental
tangguh pada orang tersebut.
Lantas, bagaimana menghadapi
kebingungan dan menumbuhkan kesadaran itu? Entahlah, saya juga tidak tahu
pasti. Tapi secara logika, jika kebingungan kita definisikan sebagai “ketakutan
terhadap sesuatu yang samar”, ya ... jawabannya cukup mudah. Cari kejelasan,
agar sesuatu yang samar itu menjadi gamblang. Benar tidak?
Rumus sederhana “mencari
kejelasan” memang mudah dituliskan apalagi diucapkan. Dalam realisasinya, rumus
ini sulit di-aksi-kan. Lebih-lebih bagi mereka yang bergelut dengan kebingungan
mencari kebenaran dan keberadaan Tuhan, mencari jati diri kemanusiaannya, dan
mencari tujuan serta makna hidup dan kehidupan. Perkara ini amat tidak mudah
dilakukan tanpa keteguhan hati yang kuat, mental baja, ketekunan yang luar
biasa, juga rahmat Tuhan sendiri.
Saya punya rahasia kecil untuk
anda yang tengah “kebingungan” dengan hal itu. Ternyata, ada yang bisa menjawab
dengan jelas dan gamblang pertanyaan-pertanyaan ihwal tersebut. Bapak Kiai
Tanjung. Begitulah gelar beliau. Silahkan bertanya sendiri secara langsung
kepada beliau. Beliau akan selalu terbuka menerima anda. Alamatnya? Di desa
kecil di kabupaten Nganjuk bernama Tanjunganom.
Baiklah, sudah cukup kita
berbingung-bingung dengan “kebingungan” ini. Saatnya mencari kejelasan dan
kebenaran yang sejelas-jelasnya.
Gambar oleh :
pixabay